Selasa, 10 Desember 2013

DEPRESIASI



1. Pengertian

Depresiasi atau penyusutan dalam akuntansi adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset selama umur manfaatnya.[1]. Penerapan depresiasi akan memengaruhi laporan keuangan, termasuk penghasilan kena pajak suatu perusahaan.
Metode yang paling mudah dan paling sering digunakan untuk menghitung penyusutan adalah metode penyusutan garis lurus (straight-line depreciation). Tapi selain itu, ada pula metode penghitungan lain yang bisa juga digunakan, seperti metode penyusutan dipercepat, penyusutan jumlah angka tahun, dan saldo menurun ganda.
Pentingnya menentukan biaya penyusutan adalah sebagai berikut:
1.      Beban penyusutan akan mempengaruhi penyajian laporan keuangan yaitu mempengaruhi besar kecilnya laba
2.  Perusahaan bisa bermain strategi pada jumlah laba yang “diinginkan” hanya dengan mengutak-atik biaya penyusutan yang akan dipergunakan
Aktiva yang bisa disusutkan adalah aktiva tetap, karena memiliki kriteria sebagai berikut, yaitu:
1.      Digunakan lebih dari satu periode akuntansi (kecuali bila ada hal-hal yang di luar rencana sehingga mempengaruhi proses penggunaan aktiva tetap)
2.      Memiliki masa manfaat tertentu, misalnya: 5 tahun atau 10 tahun (tidak mungkin selamanya)
3.    Dipergunakan untuk proses produksi perusahaan (untuk kegiatan operasional), misalnya: mengangkut barang/ produk yang dihasilkan perusahaan (bila aktiva tetap berupa kendaraan) atau sebagai tempat memproduksi barang (bila aktiva tetap berupa gedung).
Apapun nama/ jenis aktiva yang memiliki ketiga ciri-ciri yang telah disebutkan di atas tersebut, disebut dengan aktiva tetap, dan wajib disusutkan. Segala sesuatu yang dipergunakan secara kontinu untuk tujuan operasional perusahaan maka akan mengalami penurunan fungsi, itu sebabnya ada penyusutan yang dipergunakan untuk menilai seberapa banyakkah penurunan manfaat dari suatu aktiva tetap yang dipergunakan oleh perusahaan.

Bagaimana cara perusahaan menentukan metode penyusutan untuk aktiva tetap yang mereka miliki?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, maka berikut ini adalah beberapa metode penyusutan sesuai dengan PSAK No. 17 yang bisa dipilih oleh perusahaan, yaitu:
1.      Metode Garis Lurus
Merupakan metode penyusutan yang banyak dipergunakan oleh perusahaan. Beberapa hal yang merupakan ciri-ciri yang dimiliki oleh metode penyusutan garis lurus yaitu: beban penyusutan per tahun jumlahnya sama besar tak peduli apakah dalam tahun tersebut perusahaan memproduksi banyak barang atau tidak, mudah dipergunakan karena biaya penyusutan per periodenya sama sehingga dalam menentukan biaya penyusutanpun sangat mudah, biaya penyusutan per periode yang sama tidak mengindikasikan jumlah penggunaan dari aktiva tetap tersebut (aktiva tetap sering dipergunakan atau tidak memiliki biaya penyusutan per periode yang tetap atau sama sekalipun umur ekonomisnya juga sudah berkurang). Bisa dikatakan bahwa metode penyusutan garis lurus merupakan metode penyusutan yang paling mudah namun kurang memiliki sensitivitas dalam penggunakan aktiva tetap. Hal tersebut tercermin pada biaya penyusutan yang tetap sama dari tahun per tahun, padahal penggunaan aktiva tetap tersebut seharusnya mengalami perubahan termasuk umur ekonomisnya.



2.      Metode Jumlah Angka Tahun
Adalah metode penyusutan yang memiliki ciri biaya penyusutan per tahunnya selalu menurun. Penghitungannya lebih rumit, yaitu setelah harga perolehan dikurangi dengan nilai residu maka hasilnya dikalikan dengan bilangan pecahan (pembilang= jumlah manfaat tahun dari aktiva tetap dan penyebut= jumlah tahun secara keseluruhan). Misalnya, aktiva tetap memiliki harga perolehan sebesar 10 juta dengan nilai residu 2 juta. Umur ekonomis dari aktiva tetap tersebut ditaksir 5 tahun. Maka untuk menghitung biaya penyusutan yang dibebankan pada perusahaan di tahun pertama adalah sebagai berikut:
(10 juta- 2 juta) x 5/ (5+4+3+2+1)= …..
Meskipun proses penghitungannya tidak semudah metode penyusutan sebelumnya (garis lurus), namun sebenarnya metode jumlah angka tahun ini sangat logis, yaitu aktiva tetap akan selalu mengalami penurunan manfaat dari tahun ke tahun. Biasanya perusahaan akan lebih banyak menikmati manfaat dari aktiva tetap tersebut di tahun-tahun awal (ketika aktiva tetap belum usang).
3.      Metode Saldo Menurun
Sesuai dengan namanya, maka metode saldo menurun ini mensyaratkan saldo (nilai buku) di akhir periode yang selalu menurun. Biaya penyusutan dilambangkan dengan prosentasi yang nilainya selalu tetap dari tahun ke tahun. Jadi yang membedakan adalah biaya penyusutan yang selalu menurun dari tahun ke tahun (meskipun prosentasenya tetap) dikarenakan nilai buku yang juga terus menurun setiap tahunnya.
4.      Metode Jam Jasa
Metode ini mencerminkan alokasi beban penyusutan berdasarkan jumlah penggunaan aktiva tetap dengan menggunakan jumlah jam kerja sebagai dasar pengalokasiannya. Maka dari itu sifat dari biaya penyusutan pada metode jam jasa ini bersifat variable (berubah-ubah sesuai dengan kegiatan produksi pada waktu itu). Kelebihan yang sekaligus menjadi kelemahan dari metode penyusutan jenis ini adalah perusahaan bisa dengan mudah diidentifikasi tentang kondisi internalnya, misalnya biaya penyusutan yang ada pada laporan keuangan bernilai cukup besar itu artinya perusahaan dalam keadaan bagus karena mampu menghasilkan produk yang banyak, sebaliknya saat biaya penyusutan yang dilaporkan pada laporan keuangan kecil itu artinya perusahaan dalam kondisi yang kurang menyenangkan. Hal tersebut tentu akan menjadi beban tersendiri bagi perusahaan.
5.      Metode Jumlah Unit Produksi
Hampir sama dengan metode jam jasa, termasuk kelebihan dan kekurangannya. Hanya saja yang membedakan adalah pada metode jumlah unit produksi ini yang dihitung adalah jumlah produk yang dihasilkan dan bukan jumlah jam yang dihabiskan atau dibutuhkan untuk menghasilkan produk.
Tentunya, metode depresiasi yang berbeda yang digunakan oleh perusahaan akan memberikan hasil yang berbeda pula pada laporan keuangan. Setiap perusahaan memiliki pertimbangan masing-masing dalam memilih metode beban penyusutan. Beberapa pertimbangan perusahaan yang dipergunakan untuk menentukan biaya penyusutan per periode di antaranya adalah:
1.      Apakah penggunaan aktiva berubah-ubah atau berfluktuasi dari waktu ke waktu
2.      Apakah aktiva tetap tersebut cepat usang atau tidak (memiliki manfaat yang lebih besar di awal untuk kemudian semakin menurun dari waktu ke waktu, kendaraan untuk operasional perusahaan misalnya)
Pada laporan keuangan, beban penyusutan akan mempengaruhi jumlah laba
yang dihasilkan. Biaya penyusutan yang terlalu besar pada akhirnya akan mempengaruhi perolehan laba perusahaan menjadi kecil yang itu artinya nilai perusahaan akan turun di mata pihak eksternal. Sebaliknya biaya penyusutan yang terlalu kecil juga akan menimbulkan tanda tanya atau ketidakpercayaan terlebih bila perusahaan menggunakan metode unit produksi/ jam kerja yang mengindikasikan bahwa biaya penyusutan yang menurun sama dengan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang yang juga menurun.

� = c �O� Ȝ� (34, 34, 34); font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; -webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify; ">2.      Apakah aktiva tetap tersebut cepat usang atau tidak (memiliki manfaat yang lebih besar di awal untuk kemudian semakin menurun dari waktu ke waktu, kendaraan untuk operasional perusahaan misalnya)
Pada laporan keuangan, beban penyusutan akan mempengaruhi jumlah laba
yang dihasilkan. Biaya penyusutan yang terlalu besar pada akhirnya akan mempengaruhi perolehan laba perusahaan menjadi kecil yang itu artinya nilai perusahaan akan turun di mata pihak eksternal. Sebaliknya biaya penyusutan yang terlalu kecil juga akan menimbulkan tanda tanya atau ketidakpercayaan terlebih bila perusahaan menggunakan metode unit produksi/ jam kerja yang mengindikasikan bahwa biaya penyusutan yang menurun sama dengan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang yang juga menurun.

2. Metode Unit Produksi/Unit of Production Method
Depresiasi/Penyusutan Aktiva Tetap
Unit of Production Method

Kapasitas produksi suatu aktiva tetap dijadikan pedoman dalam penentuan besarnya depresiasi, dan besarnya produksi yang dilakukan dalam kapasitas produksi tersebut merupakan metode yang digunakan untuk menghitung depresiasi.

Rumus menghitung depresiasi :

Tarif depresiasi =
Harga perolehan-nilai sisa/kapasitas produksi

Ilustrasi :

PT Garuda Nusantara membeli mesin penggilingan padi seharga Rp.10.000.000 dengan kapasitas produksi 50 ton beras, umur 4 tahun. Adapun perincian pemakaian selama 4 tahun tersebut :

Tahun 1 : 15 ton
Tahun 2 : 10 ton
Tahun 3 : 20 ton
Tahun 4 : 5 ton

Jawab :

Depresiasi tahun.ke1 = Rp.10.000.000/50 ton x 15 ton = Rp. 3.000.000,-

Jurnal pada akhir tahun ke 1 :

D : Beban Dep.-Penggilingan Padi Rp. 3.000.000
K : Akumulasi Dep.-Penggilingan Pad=====Rp. 3.000.000

Depresiasi tahun ke 2 := Rp. 200.000 x 10 ton = Rp. 2.000.000

Jurnal pada akhir tahun ke 2 :

Beban Dep.-Penggilingan Padi Rp.2.000.000
Akumulasi Dep.-Penggilingan Padi====== Rp. 2.000.000

Depresiasi tahun ke 3 = Rp. 200.000 x 20 ton = Rp. 4.000.000

Jurnal pada akhir tahun ke 3 :

D : Beban Dep.-Penggilingan Padi Rp.4.000.000
K : Akumulasi Dep.-Penggilingan Padi====Rp. 4.000.000

Depresiasi tahun ke 4 = Rp. 200.000 x 5 ton = R. 1.000.000

Jurnal pada akhir tahun ke 4 :

D : Beban Dep.-Penggilingan Padi Rp. 1.000.000,-
K : Akumulasi Dep.-Penggilingan Pad==== Rp. 1.000.000

3. DEPLESI
Deplesi merupakan istilah lain dari penyusutan atau amortisasi. Deplesi digunakan khusus untuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, misalnya bijih besi, hasil tambang, kayu hutan dsbnya.

Deplesi dihitung dengan tarif deplesi yang diperoleh dari Beban yang dikeluarkan untuk mendapatkan hak penambangan dibagi estimasi hasil yang akan diperoleh.

Ilustrasi 1 :

PT Andalan Tambang memperoleh hak penambangan sebesar Rp. 500.000.000.000,- Estimasi hasil yang terkandung didalamnya sebesar 1.000.000 ton bahan tambang. Tahun pertama berhasil ditambang sebesar 26.500 ton, maka Jurnal Deplesi yang dilakukan akhir tahun pertama adalah :

D : Beban Deplesi=== Rp. 13.250.000.000,-
K : Akumulasi Deplesi====== Rp. 13.250.000.000,-

Keterangan:

Besarnya deplesi tergantung pada jumlah ton yang berhasil ditambang.

Ilustrasi 2 :

Pada tanggal 5 Januari 20 A PT Perkasa membeli tanah yang mengandung bijih besi seharga Rp. 100 milyar. Estimasi nilai sisa tanah seharga Rp. 20 milyar. Hasil survey geologi pada saat pembelian terdapat 2 juta bijih besi yang dapat diambil. Pada tahun 20A dikeluarkan biaya untuk pembuatan jalan dan proses pengeluaran bijih besi sejumlah Rp. 750 juta. Pada tahun 20A, 50.000 ton telah ditambang. Survey baru dilakukan pada akhir tahun 20B dan diperkirakan ada 3 juta ton bijih besi yang terkandung didalam tambang. Pada tahun 20B, 125.000 ton bijih besi berhasil ditambang.

Instruksi:

Hitunglah beban deplesi tahun 20A dan 20B

Solusi :
Beban Deplesi tahun 20A :
Harga sumber daya -nilai sisa Rp. 80.000.000.000,-
Perbaikan lahan jalan............Rp 750.000.000,-
Jumlah..................................Rp.80.750.000.000,-

Estimasi bijih besi dalam ton = 2.000.000 ton

Biaya deplesi per ton Rp. 40.375,-

Beban Deplesi Tahun 20A =

* 50.000 ton x Rp. 40.375 = Rp. 2.018.750.000,-


Beban Deplesi tahun 20B :

Harga sumber daya (neto) Rp. 80.750.000.000,-

Beban Deplesi tahun 20A... Rp. 2.018.750.000,-

Sisa pada awal tahun 20A...Rp. 78.731.250.000,-

Sisa bijih besi setelah survey ( ton) = 3.125.000 ton

( 3.000.000 + 125.000)

Biaya Deplesi per ton Rp. 25.194,-

Biaya deplesi tahun 20B =

* 125.000 ton x Rp. 25.194,- = Rp. 3.149.250.000,-

SUMBER: 
Gen Norman Thomas, MM, Akt
redaksi online
Drs. Gen Norman Thomas, SE Akuntan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar